syukur nikmat
Khutbah Jumat
A
Agus Muslim
3 Mei 2026
4 menit baca
0 views
أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ...
أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Betapa agung pagi ini, betapa mulia pertemuan kita di hadapan Sang Pencipta! Mari kita tengadahkan tangan, kita hadirkan hati yang penuh harap, kita panjatkan rasa syukur yang tak terhingga kehadirat Allah Yang Maha Pengasih. Sungguh, nikmat-Nya senantiasa meliputi kita, mengalir deras tanpa henti, tak terhitung, tak terbalas seutuhnya oleh amal dan usia kita. Syukur yang hakiki bukanlah sekadar ucapan lisan, namun getaran jiwa yang meresapi setiap helaan napas, setiap detak jantung, setiap denyut nadi kehidupan kita.
Teruntuk Anda, saudaraku, yang saat ini duduk di shaf ini. Pernahkah Anda merasakan kehangatan mentari pagi menyentuh kulit Anda? Pernahkah Anda menghirup udara segar yang memenuhi paru-paru Anda, tanpa perlu alat bantu? Pernahkah Anda menikmati lezatnya secangkir kopi atau hidangan hangat di pagi hari? Hal-hal sederhana ini, seringkali luput dari pandangan kita, padahal semuanya adalah anugerah terbesar dari Ar-Rahman. Allah Swt berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat)." (QS. Ibrahim: 34)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mari kita renungkan sejenak. Betapa banyak di antara kita yang terlahir dalam keadaan sehat wal afiat. Tangan ini – yang mungkin saat ini sedang menggenggam mushaf, atau yang sedang memegang erat tangan anak tercinta – adalah nikmat yang luar biasa. Mata yang jernih ini, yang mampu membedakan hitam dan putih, yang mampu membaca kalamullah, adalah permata yang tak ternilai harganya. Telinga yang bisa mendengar kumandang azan, bisikan lembut orang terkasih, lantunan ayat suci Al-Qur'an, adalah sebuah kemudahan yang banyak orang dambakan. Allah Swt mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16)
Hadirin yang berbahagia,
Bahkan lebih dari itu, nikmat terbesar yang Allah anugerahkan adalah nikmat iman dan Islam. Tanpa nikmat ini, semua kekayaan duniawi, segala kedudukan dan kekuasaan, tak akan pernah berarti di hadapan Allah Swt. Kita adalah umat pilihan, umat yang diutus nabi penutup, umat yang dikaruniai kitab suci yang terjaga keasliannya. Mari kita lihat sejarah, betapa banyak umat terdahulu yang diazab karena kekufuran dan kesombongan mereka. Namun Allah masih memberi kita kesempatan, mengulurkan tangan ampunan-Nya, seraya berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
"Mengapa Allah akan menyiksa kamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa: 147)
Betapa pedihnya hati ini membayangkan, ketika kelak di akhirat, kita diadili bukan atas dasar kekayaan atau gelar kita, melainkan atas dasar bagaimana kita memanfaatkan nikmat-nikmat ini. Apakah kita gunakan mata kita untuk memandang yang haram, atau untuk membaca Al-Qur'an? Apakah kita gunakan tangan kita untuk berbuat maksiat, atau untuk membantu sesama dan bersedekah? Lisan yang kita miliki ini, apakah kita gunakan untuk bergosip dan fitnah, atau untuk berdzikir dan berkata baik? Nabi Muhammad Saw bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: Nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari)
Sungguh, sebuah ironi yang menyakitkan, ketika kita sehat, kita merasa tak punya waktu. Ketika kita punya waktu luang, kita seringkali lalai dari mensyukuri kesehatan yang kita miliki. Mari kita bangkit, Saudaraku! Jangan sampai kita menjadi manusia yang menyesal, yang kelak di hari kiamat berseru:
يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ
"Betapa besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (memenuhi hak) Allah, sesungguhnya aku dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (nya)." (QS. Az-Zumar: 56)
Hadirin yang budiman,
Semoga diri ini dan seluruh hadirin dikuatkan oleh Allah untuk benar-benar menjadi hamba yang pandai bersyukur. Syukur adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Syukur adalah penambah nikmat, sebagaimana firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Ku-tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
Mari kita jadikan setiap hembusan napas ini sebagai kesaksian syukur kita. Mari kita gunakan setiap detik waktu ini untuk beribadah dan berbakti. Mari kita tunjukkan cinta kita kepada Allah, Sang Pemberi Nikmat, dengan ketaatan yang tulus, dengan pengorbanan yang ikhlas. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang pandai bersyukur, yang senantiasa mengingat-Mu, dan yang tidak pernah lalai dari ujian-Mu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.